PoeNYae ViNNa NeGH











{April 13, 2007}   TiDaK!!! JiBRiL TiDaK PeNSiuN

Tidak! Jibril Tidak Pensiun



 

Hanya kualitas sorang Nabi yang sanggup menampung wahyu, dan Allah memang hanya berkenan memberikan wahyu kepada beliau-beliau yang terpilih. Sampai akhirnya Muhammad si Pamungkas. Selebihnya hanya ada wahyu kraton: suatu tema drama politik.

Maka anak-anak suka bersenda gurau bahwa Jibril sejak abad VII Masehi itu jadi penganggur. Pensiun abadi. Ada yang mebantah dengan mengemukakan bahwa Jibril tetap being employed karena para wali atau orang-orang dengan ‘radar suci’ setingkat mereka tetap menerima karomah, sementara orang-orang biasa kayak kita tetap juga memperoleh ilham.

Tidak, kata yang lain. Untuk takaran di bawah wahyu tak diperlukan Jibril. Untuk pekerjaan-pekerjaan kecil begitu Allah tak memerlukan organisasi birokrasi, tukang-tukang pos atau agen penyalur. Allah bisa cukup bilang Kun (fa-yakuun) untuk kepentingan apa pun saja.

Alangkah samar pembicaraan semacam ini. Tak ada kerangka metodologi penelitian model manapun yang bisa menyentuhnya. Tak tersedia kredibilitas keilmuan manusia apapun yang mungkin menerobosnya. Apalagi ilmu-ilmu sosial hanya pernah kenal Tuhan sebagai benda abstrak, sebagai suatu syahdan, sebagai kemungkinan obyek yang sungguh asing sifatnya — sebab segala teori menjadi lawakan tatkala mendekati-Nya.

Satu-satunya jalan disediakan justru oleh berita wahyu itu sendiri. Tetapi ini makin tidak memuaskan manusia modern, yang canggih untuk bercuriga terhadap dogma, yang seolah-olah sengaja membuang kemampuan-kemampuan kejiwaannya yang tertentu yang bisa ia pakai untuk bergaul baik-baik dengan hidayah, dengan petunjuk ‘entah dari mana’, dengan gudang rahasia keilahian, dengan ketidak-mungkin-tahu-annya sendiri. Ya, manusia modern itu — yang sombong melebihi Musa menjelang Tursina, yang menyangka bahwa kebenaran dan kepastian adalah miliknya yang ia bisa rancang dan tentukan.

Pada saat yang sama, keterbukaan terhadap gerak penghayatan atas wahyu itu amat diperlukan, setidaknya karena manusia telah sampai pada dua gejala yang sama-sama takabbur.

Yang pertama, manusia telah merasa mampu menemukan sesuatu, mengadakan yang tak ada, menciptakan sesuatu, dan berkat itu ia menjadi seniman Nobel, doktor akademik atau sarjana kehidupan. Yang kedua berada si ekstrim lain: yang ada hanya Allah, aku ini tak ada. Yang mutlak itu Allah, aku sekedar rekaan. Karya-karyaku, kata-kataku, musikku, lukisanku, tak bisa kusebut dengan ku, sebab mereka adalah kasih karya Allah semata.

Jadi, kalau kita membaca karya itu, kita membaca karya Allah. Kalau kita dengarkan ia baca puisi, itu puisi Allah. Kalau kita nonton pameran lukisannya, kita nonton lukisan Allah.

Maka ia mengemukakan kepadaku iman dan konsep mengenai pinjaman ilmu dan harta benda Allah kepada manusia — sebagai mana ia mengemukakan hal yang sama ketika kutanyakan kepadanya apa omongan Islam tentang falsafah hak milik dan distribusi ekonomi yang dewasa ini amat dicemaskan oleh kaum sosialis-marxis.

Itu moralitas Allah.

Seandainya saja kita berhasil memiliki suatu pola pendidikan yang memungkinkan terwujudnya iman dan konsep itu dalam diri manusia, maka usaha proyeksi dan sistemasinya ke dalam organisasi-organisasi kebersamaan manusia tinggal ‘sekunder’. Tetapi sejarah telah harus mengandaikan manusia seperti ‘maling’ yang — tentu saja tak bisa dipercaya, sehingga harus diciptakan pagar-pagar yang berlebihan. Sistem yang mengatur manusia bersifat substansial, dan manusia berada secara instrumental. Kita adalah gerombolan ayam, memperoleh taburan jagung dari tangan manusia, jago-jago memonopoli taburan itu karena mereka memang ‘tak tahu menahu’ tentang moralitas tangan manusia yang menaburkan jagung. Perlawanan ayam-ayam lain terhadap jago-jago selalu berupa menyingkirkan atau menumpas jago-jago, atau menggantikan kedudukan jago-jago.

Demikian ‘psikologi perlawanan’ yang sejauh ini berlangsung: apirasi terhadap apirasi, ideologi politik terhadap ideologi politik, kelas terhadap kelas, bahkan kaum wanita terhadap kaum lelaki. Sumber kecenderungan ini ialah karena jagung itu dipandang secara a-historis. Tak dipersoalkan secara tuntas dari mana jagung tertabur, dan apa moralitas esensial yang terkandung di balik taburan jagung itu. Dengan kata lain, orang makin tak kenal kepada jiwa wahyu.

Maka ia mengemukakan kepadaku Jibril tidak pensiun. Wahyu Allah bukan sebuah dongengan purba. Cahaya Allah tak berhenti memancar. Ilmu Tuhan terus menerus berseliweran. Muhammad tidak mati. Sungguh tidak mati. Hanya tubuh beliau yang sudah dikuburkan — dan tubuh beliau adalah bagian yang paling remeh dari eksistensi kepribadiaannya yang menyuluhi alam semesta manusia. Wahyu yang beliau terima dari Allah pun terus bekerja. Sudah sempurna tapi belum selesai, karena ia akan menemukan kelahiran dan kelahirannya kembali di dalam iman dan kesadaran ummatnya.

Bahwa pada Muhammad disebut wahyu itu berakhir, artinya ialah jatah ilmu pengetahuan dasar anugerah Allah bagi manusia berpuncak di wadah Muhammad. Segala yang kita sebut prestasi akal, ilmu dan teknologi dahsyat yang dicapai manusia sesudahnya, telah terdapat benih-benihnya dalam al-Quran –meskipun selama ini kita menyebut-nyebut hal itu sekedar untuk hibur-hiburan pasif agar meperoleh kepercayaan diri sebagai ummat. Allah tidak mengkursus kita bagaimana bikin rantai dan pedal, tetapi kualitas fenomena kendaraan sepeda telah ditunjukkan-Nya. Apapun yang kelak digapai oleh kecerdasan manusia, tak akan melebihi kapasiatas kemungkinan yang telah dinurkan oleh wahyu yang berpuncak di Muhammad.

Tetapi, barangkali kita, adalah ummat tolol yang bisa menjadi cukup tenang hanya dengan mengemukakan keyakinan itu, tanpa mengerjakannya, dan kemudian — kata para piawai — “Kita ketinggalan dua abad” dibanding orang-orang lain yang justru ‘acuh tak acuh terhadap Allah’. Mungkin bagi kita Jibril adalah tokoh sejarah pada zaman sebelum Prabu Jayabaya atau candi Borobudur dibangun. Jibril adalah bayangan patung, arca berjubah, makhluk supra-raksasa yang telapak tangannya seluas 3333 kali galaksi, yang eksistensinya sepurba Dinosaurus. Atau Jibril itu semacam lelembut. Dan semua itu tidak konkret.

Padahal tidak. Jibril tidak pensiun. Ia begitu karib, di sisi tidur dan jagamu. Namun apabila pengalaman keilahian tidak selalu kita perbaharui, pada suatu hari kita akan sadar seolah-olah kita ini hidup di masa pra-Ibrahim yang menghayati bulan dan matahari untuk menemukan Allahnya.

Written by Emha Ainun Nadjib


Hamsyong

10-09-2006, 02:03 PM

Mereka Mencari Rumus Tuhan I

Meneruskan tulisan tentang anak-anak muda kita yang atheis, saya ingin mengungkapkan beberapa segi lain supaya ada gambaran lebih jelas. Ada dua hal, sementara apa yang menjadi ancang-ancang penulisan ini. Pertama, pengembaraan tema seperti ini sesungguhnya membutuhkan analisa-analisa yang memperhatikan segi theologis, psikologis, dan faktor-faktor kesejahteraan tertentu yang multi-konteks.

Namun, dengan tulisan ini saya membayangkan sedang omong-omong karib saja dengan Bapak-Ibu, saudara dan sahabat-sahabat di rumah-rumah kampung, di daerah-daerah, desa-desa. Kita ngobrol sederhana saja. Kedua, tema ini amat sensitif untuk situasi politik keagamaan di negeri kita, dan (harus kita akui) ia lebih sensitif lagi di kalangan ummat islam, ya kita-kita ini. Trauma G30/S – lepas dari bagaimana sesungguhnya data – kesejarahannya – telah menumbuhkan dikalangan masyarakat suatu ketidaksenangan dengan kadar amat tinggi terhadap atheisme.

Ini merupakan tema tersendiri, tetapi yang terpenting dengan tulisan ini saya berada jauh dari menyarankan suatu kebencian. Anak-anak selalu dilahirkan hanya oleh ibunya, artinya setiap gejala selalu merupakan tahap proses dari gejala sebelumnya. Ibu yang baik akan memperlakukan setiap gejala, seberbahaya apapun, dengan penglihatan yang jernih, hati penuh kesabaran, dan cinta kasih. Kebijaksanaan tak pernah kehabisan alasan untuk tak bersyukur : Maha Suci Allah bahwa mereka sempat membenci-Nya dan lantas tak mempercayai-Nya, bahkan tak percaya bahwa Ia ada. Kebencian, ketidakpercayaan dan negasi, adalah satu bentuk hubungan, suatu model mu’amalah ma’allah juga, meskipun arah prinsipnya bisa seakan-akan menggambarkan keadaan putus, serta meskipun si pelakunya sendiri tak pernah mengakui bahwa itu suatu bentuk perhubungan dengan Allah. Tentu saja, demikian absolutnya Allah, sehingga baik orang yang mengakui-Nya, tak pernah sedetik pun pernah terlepas dari kaitan dengan-Nya, meskipun seseorang bisa tak tahu dan tak mengenal keterkaitan itu. Jadi, demikian Abdurrahman Wahid, pernah berkata, jangan dimaki kalau mereka membenci dan tak mempoercayai Tuhan, siapa tahu itu adalah proses menuju cinta yang mutlak mempercayai-Nya, lebih dari sebelumnya.

Alhasil, kita diuji.

Mari kita lihat petanya. Harus dibedakan antara tak percaya kepada Tuhan dengan tak percaya adanya Tuhan. Yang pertama dalam keadaan di mana seseorang tetap (masih) percaya akan adanya Tuhan, tapi tak mempercayai, misalnya, peranan Tuhan, janji-janji-Nya, juga sifat-sifat-Nya, dalam kenyataan hidup manusia. Ini barangkali merupakan semacam rasa sakit hati kesejarahan, muncullah rasa putus asa bahwa problematika ruwet kehidupan ummat manusia ini akan bisa diatasi. Di kalangan mahasiswa yang ilmu pengetahuannya luwes itu, umpamanya, masih ada pertanyaan yang sangat permukaan tentang keadilan Tuhan: kalau memang Tuhan itu adil, kenapa ada kelompok masyarakat miskin dan ada yang kaya, juga kenapa semua itu dibiarkan terus.

Kita semua mengerti ini adalah pemahaman yang sangat belum memadai tentang hakekat dan nilai keadilan, apalagi nilai ketuhanan itu sendiri . Tetapi yang penting kecendrungan ini bisa mengarah kepada sikap yang kedua yakni tak percaya adanya Tuhan.

Namun sebelum membicarakan itu, kita sebut dulu kecenderungan lain yakni tak percaya pada Tuhan, ini bisa sekedar ketidak kepercayaan bahwa agama dapat memecahkan problem kehidupan manusia, misalnya soal kemiskinan, tapi juga ketidak percayaan bahwa agama itu datanag dari tuhan, dari golongan ini agama tak lebih dari rekayasa manusia biasa, bikin- bikinan orang yang menyebut dirinya sebagai nabi atau rosul. Tetapi tidak selaludengan nada negati. Bisa saja dikatakan bahwa agama itu dibikin sebagai alat untuk melawan sesuatu umpamanya melawan perbudakan dan kebodohan di zaman Muhammad, melawan penindasan dizaman Isa, dan melawan diskriminasi rasial dizaman Musa . Namun demikian, golongan ini pada umumnya tidak percaya bahwa agama bisa merupakan alternatif jalan keluar bagi masalah-masalah yang mendera dalam sejarah. Katakanlah ia bukan sebagai ideologi sosialisme yang tampil mengantiasifasi kapitalisme, orang-orang ini dengan itikad baik, biasa mengatakan “Agama tak apa-apa ada, asal dia membela kebenaran dan kebaikan”.

Ini gambaran globalnya. Alhasil ada orang yang tak percaya kemampuan agama dan peranan Tuhan. Ada orang yang tak percaya kepada keabsyahan keagamaan seperti yang dianut oleh kaum beragama, serta tak percaya kepada adanya Tuhan. Ada orang yang tak percaya kepada peranan agama tapi berharap kepada fungsi Tuhan. Ada juga orang yang tak percaya kepada adanya Tuhan namun tetapi memiliki kepercayaan terhadap nilai-nilai agama. Yang tak ada tentu saja adalah orang yang tak percaya orang yang tak percaya dengan adanya Tuhan, tetapi percaya kepada fungsi Tuhan. Ia tak berharap terhadap sesuatu yang dianggapnya tidak ada. Namun jangan lupa bahwa ada orang yang tak percaya kepada tuhan maupun tentang keabsyahan agam, tetapi ia menaruh kepercayaan terhadap orang -orang beragama. Ia, di dalam dirinya, menilai tatanan nilai tersendiri. Sebutkan saja contoh, ia berpegang kepada nilai demokrasi : bisa saja ia jumpai potensi nilai tersebut didalam diri orang lain yang “kebetulan” menganut suatu agama, maka ia percaya kepada agama itu: dan bahwa nilai yang disebut demokrasi itu sesungguhnya bersumber dari Tuhan dan agama, adalah semata-mata urusan si pemeluk agama itu.

Demikian, ada seribu sisi mutiara dalam batin manusia. Ada berbagai kemungkinan dan kenyataan, yang tak dapat kita lihat hanya sebagai warna hitam dan putih belaka.

 



Leave a Reply

et cetera